PKM MPI UNPAM GAUNGKAN PERAN MANAJEMEN PENDIDIKAN DALAM MENGHADAPI BULLYING DI PESANTREN
Published on: 19 Apr 2026

PKM
Depok, 19 April 2026 — Di tengah keprihatinan meningkatnya kasus perundungan di
lingkungan pendidikan, Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Universitas
Pamulang (UNPAM) menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk
“Peran Manajemen Pendidikan dalam Menghadapi Bullying” di Pondok
Pesantren Al-Wutsqo, Tanah Baru, Beji, Kota Depok, Jawa Barat, Minggu
(19/4/2026). Kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus aksi nyata dalam
membangun lingkungan pendidikan yang aman, berkarakter, dan berkeadaban.
Sejak pagi hari, suasana
pesantren tampak hidup. Para santri kelas XII MA bersama mahasiswa MPI UNPAM
berkumpul dengan penuh antusias, menyambut kehadiran para dosen yang hadir
tidak hanya sebagai akademisi, tetapi juga sebagai pembawa misi perubahan sosial.
Kegiatan ini tidak sekadar seremonial, melainkan dirancang sebagai upaya
strategis untuk menanamkan kesadaran kolektif tentang pentingnya manajemen
pendidikan dalam mencegah dan menangani bullying.
Pengasuh Pondok Pesantren
Al-Wutsqo, KH Firmansyah El Bahrul, dalam sambutannya
menekankan bahwa pesantren bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang
pembentukan akhlak.
“Bullying bukan hanya melukai
fisik, tetapi juga merusak jiwa. Karena itu, pendidikan harus hadir dengan
nilai kasih sayang, pengawasan, dan keteladanan. Di sinilah pentingnya
manajemen pendidikan yang baik,” ujarnya dengan penuh penekanan.
Sementara itu, perwakilan dari
MPI UNPAM, Ust. Abdul Muhyi, S.H.I., M.Pd.I, menyampaikan
bahwa persoalan bullying tidak bisa diselesaikan secara parsial. Dibutuhkan
pendekatan sistemik yang melibatkan kurikulum, pendidik, serta budaya
institusi.
“Manajemen pendidikan memiliki
peran kunci dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman. Dengan perencanaan,
pengorganisasian, hingga evaluasi yang baik, potensi bullying dapat
diminimalisir bahkan dicegah sejak dini,” jelasnya.
Kegiatan ini menghadirkan para
dosen MPI UNPAM, di antaranya Abdul Muhyi, S.H.I., M.Pd.I; Dr. Hj. Eneng
Nurhayati, M.A; Dr. Septian Arief Budiman, S.Pd.I., M.Pd.I; Dr. Romenah, S.Pd.,
M.A; Asror Fuad Almaulidi, S.H.I., M.Pd; Mahliga Fitriansyah, S.Pd.I., M.Ag;
serta Muhammad Zidni, Lc., M.A. Kehadiran mereka memberikan warna tersendiri
melalui pemaparan materi yang aplikatif, diskusi interaktif, serta studi kasus
yang relevan dengan realitas di lapangan.
Dalam sesi pemaparan, peserta
diajak memahami bahwa bullying bukan sekadar persoalan individu, melainkan
fenomena sosial yang dipengaruhi oleh sistem pendidikan yang kurang responsif.
Oleh karena itu, penguatan manajemen pendidikan—mulai dari kebijakan sekolah,
penguatan peran guru, hingga pembinaan karakter peserta didik—menjadi solusi
yang tidak bisa ditawar.
Lebih dari sekadar transfer
pengetahuan, kegiatan ini juga membangun kesadaran emosional para peserta.
Beberapa santri tampak aktif berbagi pengalaman, mencerminkan bahwa isu
bullying memang nyata dan membutuhkan perhatian serius. Diskusi yang berlangsung
hangat menunjukkan bahwa edukasi semacam ini sangat dibutuhkan, terutama di
lingkungan pendidikan berbasis nilai seperti pesantren.
Dampak nyata dari kegiatan ini
mulai terasa dari meningkatnya pemahaman peserta tentang pentingnya menciptakan
lingkungan yang inklusif dan suportif. Para santri tidak hanya mendapatkan
wawasan baru, tetapi juga keberanian untuk bersikap dan bertindak ketika
menghadapi atau menyaksikan praktik bullying.
Kegiatan PKM ini menjadi bukti
bahwa sinergi antara perguruan tinggi dan pesantren mampu menghadirkan solusi
konkret bagi persoalan sosial di dunia pendidikan. Lebih jauh, ini adalah
langkah kecil menuju perubahan besar—mewujudkan ekosistem pendidikan yang tidak
hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan
spiritual.
Sebagaimana semangat yang
diusung dalam kegiatan ini, pendidikan sejatinya bukan hanya tentang mencetak
generasi berilmu, tetapi juga membentuk manusia yang berempati. Dari pesantren
ini, harapan itu kembali dinyalakan: bahwa masa depan pendidikan Indonesia
harus bebas dari bullying, dan penuh dengan nilai-nilai kemanusiaan.




