“Living Quran” Menjawab Tantangan Era Digital: Prodi MPI Unpam Gelar Seminar Bersama Ustad Azhari Nasution – DAI TV Nasional
Published on: 10 Nov 2025

Kegiatan Akademik
4 November 2025 - Pamulang. Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Fakultas Agama Islam Universitas Pamulang menggelar seminar bertajuk “Living Quran dan Tantangan Era Digital: Integrasi Nilai-nilai Qurani dalam Kehidupan Modern.” Acara menghadirkan narasumber tunggal Ustad Azhari Nasution, M.Ag. DAI TV nasional sekaligus pemerhati pendidikan dan dibuka resmi oleh Rektor Universitas Pamulang, Dr. E Nurzaman, A.M., M.M., M.Si, dengan dukungan penuh Ketua Yayasan Sasmita Jaya, Dr. Pranoto, M.M. Hadir pula Dekan FAI, Dr. Sopyan Hadi, M.Ag., serta Kaprodi MPI, Mukhlisin, M.Pd.I.

Dalam sambutannya, Ketua Yayasan Sasmita Jaya, Dr. Pranoto, M.M. menegaskan komitmen yayasan terhadap mutu pendidikan yang relevan dengan zaman. “Transformasi digital tidak boleh menjauhkan kita dari nilai Qurani. Justru teknologi harus menjadi wasilah untuk memperluas kemaslahatan. Yayasan mendukung penuh setiap inisiatif akademik yang menjembatani keunggulan moral, literasi digital, dan daya saing lulusan,” ujarnya.

Rektor Unpam, Dr. E Nurzaman, A.M., M.M., M.Si, membuka acara secara resmi dengan menekankan pentingnya tata kelola pendidikan yang berkarakter. “Kampus ditantang untuk menghadirkan ekosistem belajar yang aman, etis, dan produktif. Integrasi nilai Al-Qur’an kejujuran, amanah, ihsan harus tampak dalam kultur akademik, kurikulum, dan praktik teknologi sehari-hari,” tegasnya.
Sebagai pengampu acara, Kaprodi MPI, Mukhlisin, M.Pd.I. memetakan arah tindak lanjut bagi sivitas akademika. “Prodi MPI mendorong lahirnya panduan operasional ‘Living Quran’ di kelas: dari etika berkomunikasi digital, manajemen informasi, hingga pengambilan keputusan berbasis maqashid syariah. Hasil seminar ini akan kami turunkan menjadi modul sehingga mahasiswa bisa belajar al Quran lebih mudah,” jelasnya.
Pada sesi utama, Ustad Azhari Nasution, M.Ag. mengelaborasi konsep Living Quran sebagai praksis bukan sekadar kajian tekstual. Ia mengajak peserta membaca ulang ayat-ayat akhlak, amanah, dan tabayyun sebagai standar perilaku di ruang digital. “Di era banjir informasi, ‘iqra’ bukan hanya membaca teks, tetapi juga menyaring konteks. Prinsip tabayyun menuntun kita verifikasi sumber, menghindari hoaks, serta menjaga martabat orang lain. Ini bagian dari hifzh al-‘aql menjaga akal yang merupakan tujuan penting syariat,” paparnya.
Ustad Azhari juga menyoroti etika produktivitas dan jejak digital. “Al-Qur’an memanggil kita pada ihsan bekerja terbaik meski tak terlihat. Di dunia daring, ihsan tampak pada disiplin waktu, transparansi akademik, dan menghargai hak cipta. Setiap unggahan adalah amanah; jejak digital kita adalah cermin integritas,” tuturnya. Ia menambahkan, literasi digital yang Qurani menuntut self-regulation mengukur intensitas penggunaan gawai, memilah konten, dan memprioritaskan tugas yang mendekatkan pada kemanfaatan.
Dari perspektif manajemen pendidikan, seminar merumuskan beberapa praktik baik yang bisa segera diterapkan: penanaman etika komunikasi ilmiah dalam LMS dan grup kelas, desain asesmen yang mendorong orisinalitas karya, serta mekanisme digital well-being bagi mahasiswa dan dosen. Dekan Fakultas Agama Islam, Dr. Sopyan Hadi, M.Ag., menyambut baik rekomendasi tersebut dan menekankan pentingnya kolaborasi lintas prodi untuk mengawal implementasi di level kelas dan unit layanan akademik.
Di sesi tanya jawab, peserta mengangkat isu penggunaan AI generatif di ruang belajar. Menjawab hal itu, Ustad Azhari menekankan prinsip kejujuran dan pertanggungjawaban. “Teknologi adalah alat, bukan dalih. Manfaatkan untuk belajar lebih efektif, tetapi jangan hilangkan proses berpikir dan adab ilmiah. Kaidahnya sederhana: apa yang kita klaim milik kita, harus bisa kita pertanggungjawabkan,” katanya.
Seminar berakhir dengan penyerahan cenderamata kepada narasumber dan foto bersama pimpinan yayasan, rektorat, dekanat, serta sivitas akademika. Prodi MPI menjadwalkan lokakarya tindak lanjut untuk memfinalkan modul Living Quran di kelas dan program pendampingan literasi digital berbasis komunitas. Melalui forum ilmiah ini, Universitas Pamulang menegaskan peran perguruan tinggi: bukan hanya melek teknologi, tetapi mengarahkan teknologi agar selaras dengan nilai-nilai Al-Qur’an membumikan etika, memperkuat nalar, dan memuliakan kemanusiaan.




